RIHLAH

Rihlah diadakan di candi gedungsongo semarang

MUSYAWARAH AKBAR UKKI

Pemilihan MSO dan Ketua UKKI periode 2015/2016

GRAND OPENING

pemenangng lomba TTS dan Pembukaan dan pengenalan Unit Kegiatan Mahasiswa UKKI ke Mahasiswa Baru angkatan 2016/2017

IYT 1

Islamic Youth Traning 1 merupakan pelatihan kepemudaan didasari agama ISLAM yang di adakan di Ponpes Saubari Bening Hati Meteseh Semarang

STADIUM GENERAL

Pembukaan serta Kuliah Duha Pertama untuk Mahasiswa Baru angkatan 2015/2016

Kamis, 10 April 2014

Mentoring

       Mentoring dakwah kampus merupakan sarana yang sangat penting untuk melakukan perekrutan untuk menghasilkan dan mencetak kader baru bagi lembaga dakwah kampus. Oleh karena itu mentoring harus dikelola dengan baik agar mampu mencetak kader yang baik. Begitu penting peran mentoring dalam dunia dakwah kampus, dan sudah sewajarnya mentoring diberikan perhatian khusus dan lebih dalam pengelolaannya. Perhatian khusus ini tidak bisa sekedar dengan adanya proker yang baik, akan tetapi perlu orang terbaik di bidang pengelolaan mentoring dan dana yang cukup untuk menunjang agenda pengelolaan mentoring yang dilakukan.
Dalam mengelola mentoring dakwah kampus kita perlu membangun sistem yang akan dijadikan pedoman demi kelancaran mentoring yang dilakukan. Sistem yang digunakan ini juga perlu disesuaikan dan bila perlu dievaluasi setiap tahunnya, untuk perbaikan dakwah kampus kedepannya. Secara garis besar aspek yang perlu kita bangun bersama dalam mengelola mentoring dakwah kampus adalah:
1.      Sistem Umum Pengelolaan Mentoring
2.      Pengelolaan Mentor
3.      Sistem Pengelolaan Data
4.      Pengelolaan Kurikulum
5.      Pengelolaan Sekolah Mentor
6.      Pengelolaan Dauroh Mentor
Untuk lebih mudah memahaminya kita akan jelaskan secara berurutan bagaimana mengelola mentoring dakwah kampus.
1.   Sistem Umum Pengelolaan Mentoring
Dalam sistem umum pengelolaan mentoring yang perlu dibuat adalah bentuk pengelompokan yang baik, seleksi tim pengelola mentoring, struktur tim pengelola, dan pengemasan mentoring itu sendiri.
11.1.  Bentuk pengelompokan
Secara mendasar metode yang seringkali digunakan dalam pengelompokan kelompok mentoring yaitu pengelompokan berbasis program studi/jurusan dan pengelompokan dengan tabulasi jadwal mentor.
·         Pengelompokan berbasis program studi/jurusan
Pengelompokan ini dilakukan dengan mengelompokkan para peserta mentoring yang berbeda dalam satu program studi atau jurusan. Biasanya setiap jurusan memiliki kesamaan dan kekhasan tersendiri. Oleh karena itu, dengan mengelompokkan peserta mentoring ini dalam satu kelompok dan dibina jiga oleh mentor yang berasal dari jurusan yang sama, tentunya akan terjadi chemistry dalam kelompok tersebut. Selain kelebihan dalam hal nyambung dalam berdiskusi, biasanya dalam satu jurusan memiliki homogenitas (kesamaan) jadwal, sehingga untuk menyesuaikan jadwal pertemuan akan lebih mudah.
·         Pengelompokan berbasis tabulasi jadwal mentor
Pengelompokan ini dilakukan jika pengelompokan berbasis program studi/jurusan tidak bisa digunakan. Pengelompokan ini ditujukan untuk mahasiswa yang memiliki keberagaman karateristik dan jadwal kuliah. Sehingga untuk mengatasi hal tersebut diperlukan pengelolaan mentoring dengan metode berbasis tabulasi jadwal. Tabulasi jadwal adalah sebuah konsep pengelolaan mentoring terpusat dengan mengumpulkan jadwal kosong setiap mentor dan merangkumnya dalam sebuah tabel. Tabulasi ini tidak hanya berisikan jadwal kosong saja, akan tetapi juga menampilkan karateristik dan profil yang dimiliki oleh seorang mentor. Profil mentor ini bisa mulai dari namanya, asal, semester, IPK, jurusan, organisasi yang diikuti, prestasi yang pernah diraih, dan kelebihan mentor yang lainnya. Sehingga dengan metode ini, peserta mentoring bisa memilih kelompok mentoring yang mentornya sesuai dengan kebutuhan peserta dan jadwal yang sesuai dengan waktu peserta. 
 
11.2. Seleksi Tim Pengelola Mentoring
Dilakukan seleksi untuk mendapatkan kader yang cocok diamahkan dalam tim pengelola mentoring. Kader yang ditempatkan dalam tim ini sebaiknya yang memiliki kepahaman pengelola dalam hal kaderisasi, dakwah dan permentoringan. Pemahaman kaderisasi diperlukan agar pengelola benar-benar paham tentang bagaimana kedudukan mentoring ini dalam tahapan kaderisasi dan bagaimana hubungannya dengan tadribul amal peserta. Selain itu dengan pemahaman kaderisasi yang kuat, biasanya akan terbentuk karakter pembina dan karakter pendidik yang handal. Pemahaman dakwah yang komprehensif dari pengelola mentoring maksudnya mengetahui bagaimana tuntutan dakwah saat ini serta kebutuhan karakter kader yang diperlukan untuk menunjang dakwah saat ini. Dengan pemahaman ini, pengelola dapat melakukan inovasi dan dinamisasi terkait permentoringan.
Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah pemahaman pengelola terhadap pengelolaan mentoring itu sendiri. Perlu disadari bersama bahwa mentoring bukanlah sebuah sistem komputer yang bisa diubah dan diatur dengan mudah. Mentoring adalah sebuah pengelolaan manajemen dakwah yang berkaitan atau berhubungan langsung dengan manusia, maka diperlukan adanya pendekatan yang manusiawi. Oleh karena itu dalam pengelolaannya dibutuhkan orang yang memilki empatik dan memahami dengan baik psikologi manusia untuk mengelola permentoringan.

11.3. Struktur Tim Pengelola
Demi kelancaran kerja tim dalam permentoringan dibutuhkan sebuah struktur. Struktur ini merupakan pendukung dari tim pengelola mentoring, sehingga diusahakan membentuk struktur yang efektit dan efisien dan sesuai dengan kebutuhan. Secara umum tidak ada struktur yang terbaik, akan tetapi saya mengusulkan beberapa bidang yang diperlukan dalam tim pengelolaan mentoring.
Tim yang diperlukan untuk pengelolaan yaitu :
 
·  Koordinator : Memastikan semua agenda permentoringan berjalan dengan baik
·   Sekretaris : Bekerjasama dengan koordinator melakukan evaluasi berkala terhadap perkembangan mentoring (minimal 1 kali sebulan)
·    Database : Mengolah data permentoringan dan menyimpannya
·   Sekolah Mentor : Fokus pada pembentukan calon mentor di masa yang akan datang.
·    Dauroh Mentor : Terkadang tidak semua mentor bisa menyampaikan semua materi dengan baik oleh karena itu perlu menambahkan pemahaman mentor sebelum mentoring dan untuk penjagaan mentor yang sudah ada. (Minimal 1 kali seminggu)
·       Kurikulum Mentoring : Fokus pada pembuatan kurikulum yang sesuai untuk peserta mentoring.
Bentuk struktur di atas bukanlah mutlak, akan tetapi perlu juga disesuaikan dengan kondisi SDM dan objek dakwah yang ada.

11.4. Pengemasan Mentoring
Pengemasan ini diperlukan dengan harapan dakwah ini bisa diterima dengan baik oleh objek dakwah kita. Terutama dalam mentoring, diperluakn adanya pengemasan agar mentoring ini bisa diterima. Untuk pengemasan mentoring disesuaikan saja dengan kebutuhan dengan terlebih dahulu menganalisis objek dakwah. Secara umum memang bentuk permentoringan akan tetap sama, akan tetapi kita bisa membuat variasi seperti dengan mengikuti mentoring peserta akan mendapatkan notebook mahasiswa muslim, training softskilll, tutorial akademik, kiat sukses kuliah dan lain sebagainya.
2.   Pengelolaan Mentor
Pada bagian ini saya akan menyinggung mengenai bagaimana mentor yang ideal dan cara seleksi mentor itu sendiri.
22.1. Mentor Ideal
Seorang mentor yang ideal harus mempunyai karakter. Secara umum, karakter yang harus dimiliki oleh seorang mentor, yaitu :
·         Sebagai Seorang Kakak atau Saudara
Seorang mentor akan berfungsi sebagai sorang kakak atau saudara bagi peserta mentoring ketika berdiskusi dan menceritakan isi hati atau masalah yang mungkin dihadapai oleh oleh peserta mentoring. Oleh karena itu seorang mentor peril memilki karakter empatik denganharapan dapat menyentuh hati para peserta mentoring sehingga terjadi keterbukaan, dan terbentuk nuansa kekeluargaan dalam kelompok mentoring tersebut
·         Sebagai Sosok Pelatih
Pelatih adalah sosok yang memberikan arahan, mengajarkan cara melakukan sesuatu, mencontohkan, mengawasi peserta melakukan latihan sesuatu, momotivasi ketika gagal, member selamat ketika berhasil, dan setia mendampingi peserta agar dapat melakukan suatu hal. Untuk itu diperlukan karakter pengkader yang ulung bagi seorang mentor, karena ialah yang akan senantiasa berinteraksi dengan para peserta mentoring. Selain itu, mentor juga perlu memiliki kemampuan untuk merangkul dan mempengaruhi peserta mentoring.
·         Penunjuk Jalan
Seorang mentor diharapkan dapat membimbing peserta mentoring untuk menapaki masa depannya. Dalam hal ini seorang mentor perlu memahami potensi dari peserta mentoring dan memberikannya alternatif pilihan terkait masa depannya. Oleh karena itu seorang mentor diharapkan dapat memiliki karakter pemimpin yang bisa mengarahkan peserta mentoring.
·         Pembentuk Mentor Baru
Kebutuhan dakwah kampus untuk mentor senantiasa bertambah. Oleh karena itu seorang mentor diharapkan dapat membentuk karakter peserta mentoring untuk dapat menjadi mentor di masa yang akan datang.

22.2. Seleksi Mentor
Kualitas seorang mentor sangat menentukan kualitas peserta mentoring. Karena itu diperlukan seleksi ketat mengenai siapa saja yang berhak menjadi mentor dalam rangka mencapai tujuan tujuan yang diinginkan. Jadi seorang mentor itu harus memiliki integritas. Integritas bukanlah hanya sekedar kejujuran, akan tetapi bentuk komitmen seseorang untuk melakukan sesuatu dan mengerjakannya apa yang telah ia katakana. Kebutuhan integritas bagi seorang mentor sangat diperlukan untuk menunjang optimasi kinerja dari pengelola permentoringan. Seleksi terkait kelayakan mentor dapat dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu :
·   Seorang mentor mengidentifikasikan peserta mentoringnya untuk mengikuti sekolah mentor, sehingga syarat pertama yang diperlukan adalah ia haruslah sehat secara keberjalanan permentoringannya atau harus mengikuti mentoring.
·     Ia diharuskan mengikuti pembinaan calon mentor atau sekolah mentor
·  Mengikuti tes atau seleksi formal yang diadakan oleh tim pengelolaan mentoring, yang meliputi kapasitas pribadi seorang calon mentor, seperti kualitas dan kuantitas amalan ibadah harian, kemampuan pemahaman materi, dan seleksi lainnya yang diperlukan.
·    Seorang calon mentor diharapkan dapat mengikuti proses magang. Proses ini diharapkan dapat mengasah kemampuan dan pengetahuan untuk menjadi seorang mentor.
·  Jika secara kapasitas individu seseorang telah memiliki kecakapan untuk menjadi seorang mentor, ia diharapkan dapat mengisi lembar perjanjian komitmen diri sebagai seorang mentor. Adanya kontrak social ini diharapkan dapat meningkatkan tanggungjawab mentor dalam menjalankan amanahnya.

3.   Sistem Pengelolaan Data
Salah satu parameter yang bisa dinilai untuk mengavaluasi keberjalanan permentoringan adalah pendataan yang baik, yakni bagaimana data yang berasal dari mentor dapat sampai kepada pengelola mentoring secara berkala dan tepat waktunya.
33.1. Jaringan Pengumpul Data
Jaringan ini diperlukan untuk mempermudah arus tersampainya informasi. Konsep dari sistem ini adalah meng-estafetkan data dari mentor ke pengelola mentoring. Jadi setiap mentor wajib membuat laporan mengenai kelompoknya masing-masing yang akan diserahkan kepada pengelola mentroring. Isi laporan bisa mengenai kelancaran mentoring, perkembangan peserta mentoring, kendala yang dihadapi dan lain sebagainya. Untuk format laporan bisa dibuat sesuai yang dibutuhkan, dan format ini dibuat oleh Tim Pengelolaan Mentoring.

33.2. Pola Pengumpul Data
Pola untuk mengumpulkan data (laporan) bisa dilakukan dengan berbagai cara. Gunakan saja pola yang dianggap efektif dan efisien. Akan tetapi untuk memudahkan mentor, sebaiknya pengelola mentoring diharapakan memberikan variasi pilihan pola pegumpulan data kepada mentor. Bentuk variasi pengumpulan data antara lain
·         Via SMS
Pengumpulan data via sms ini sebetulnya merupakan cara yang paling mudah. Hanya dengan sms ke nomor  tertentu saja dengan ketentuan yang disepakati. Misalnya : ketik nama mentor tanggal mentoring tempat pertemuan: pertemuan1, pertemuan2, dst , materi izin: nama1, nama2, dst sakit: nama1, nama2, dst , alpha: nama1. Nama2, dst,…dan dikirim ke nomor hotline mentoring
·         Via email
Pihak pengelola cukup dengan membuat template yang harus di isi dan di email setelah menjalankan agenda permetoringan. Jadi mentor tinggal mengisi template yang dibuat oleh pengelola mentoring, terus mengirimkan ke email hotline pengelola mentoring.
·         Via data box
Pihak pengelola menyediakan kotak data khusus di sekretariat, dan pihak mentor cukup mengisi template kertas yang sudah tersedia dan memasukkannya ke kotak
·         Via database oline
Pada tahap yang lebih advance, pengelola mentoring bisa menyediakan perangkat IT pendukung, sehingga mentor cukup mengakses situs tertentu dan mengisi form yang telah tersedia di layar computer. Pada tahap ini memang agak sulit dan membutuhkan dana juga.

33.3. Sistem Database Terpusat
Maksudnya bentuk database yang berisikan tentang keberjalanan mentoring pada jangka waktu tertentu. Bentuk dari database ini bisa dalam bentuk microsoft excel atau software lainnya. Yang terpenting adalah, data ini bisa diakses oleh seluruh pemegang kebijakan dakwah kampus yang berhak untuk melihat data ini dalam rangka menentukan sebuah kebijakan tertentu.

4.   Pengelolaan Kurikulum
        Mentor biasanya akan menyampaikan materi berdasarkan kurikulum yang tersedia. Kurikulum dalam proses pendidikan adalah hal yang penting, selain akan berfungsi sebagai manhaj (pedoman) dalam menyampaikan materi, kurikulum biasanya juga dibuat dengan marhalah (tahapan) yang menyesuaikan kondisi peserta mentoring. Untuk itu diperlukan adanya penyusunan kurikulum yang sesuai dengan kondisi kekinian (terbaru).
Kurikulum untuk permontoringan tahap awal, perlu menekankan pada tiga hal, yakni aqidah, akhlak, dan ibadah. Penekanan pada tiga hal ini bukan tanpa alasan, karena memang tiga hal inilah yang diyakini sebagai fondasi awal seorang kader dakwah atau bahkan fondasi seorang muslim. Pada tahap kurikulum mentoring tahap lanjut, barulah menekankan pada hal bersifat fiqih dan dakwah. Adanya penyesuaian ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap keberterimaan materi. Dan yang terpenting bagi pengeloala mentoring bidang kurikulum adalah merangkai materi yang ada agar terbentuk sebuah tahapan pembelajaran yang tepat dan bisa diterima oleh peserta dan mentor mengerti bagaimana memahamkan sebuah materi kepada peserta mentoring.

5. Pengelolaan Sekolah Mentor
           Sekolah mentor adalah sebuah sarana yang digunakan oleh tim pengelola mentoring untuk membentuk calon mentor di masa yang akan datang. Sekolah mentor ini diharapkan dapat berjalan sepanjang tahun, sehingga proses regenerasi dapat senantiasa berjalan. Sekolah mentor ini diikuti oleh peserta mentoring yang aktif dalam kehadiran dan direkomendasikan oleh mentor yang membinanya. Disini diperlukan keahlian dari seorang mentor agar peserta mentoringnya mengikuti sekolah mentor. Memang seharusnya semua peserta mentoring dapat mengikuti sekolah mentor, akan tetapi adanya rekomendasi dapat memberikan jaminan kokmitmen dari peserta untuk mengikuti sekolah mentor ini.
Isi (cakupan) dari sekolah mentor adalah seputar hal yang diperlukan agar seseorang siap menjadi seorang mentor. Secara umum ada tiga content umum yang perlu disampaikan, yakni :
·         Pemahaman dakwah dan kaderisasi, terkait dasar-dasar pemahaman dakwah yang diperlukan, sehingga mentor melakukan aktifitas mengisi mentoring dengan berfondasikan paradigm dakwah yang kokoh.
·         Penguasaan materi dasar yang akan menjadi bekal awal dalam menyampaikan materi di awal-awal mengisi mentoring.
·         Kemampuan komunikasi dan menguasai peserta mentoring, kemampuan mendinamisasi kelompok, serta cara menyampaikan materi yang tepat agar peserta paham dan menarik untuk didengar.
            Selain itu, diperlukan pula adanya latihan mengisi mentoring dalam bentuk simulasi dengan sesama peserta, agar peserta bisa mulai belajar untuk menjadi mentor yang baik. Pemberian tipr dan trik khusus dari pementor senior pun, perlu diberikan agar peserta sekolah mentor bisa memahami medan mentoring dengan baik. Materi pendukung lainnya di sekolah mentor, adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas amalan ibadah harian peserta.  Peningkatan amalan ibadah harian ini bisa dilakukan dalam bentuk motivasi dan pengecekan secara rutin ibadah harian pada setiap pertemuan sekolah mentor. Perlu kita dipahamkan pula bahwa kekuatan robbaniyah lah yang akan  isa menopang aktifitas dakwah seorang kader.

6. Pengelolaan Dauroh Mentor
6.
        Dauroh mentor adalah sebuah sarana yang digunakan untuk menjaga dan meningkatkan pemahaman mentor senior. Dauroh mentor diharapakan berjalan rutin sepanjang tahun. Dauroh mentor ini harus diikuti oleh semua mentor senior yang ada. Jadi dauroh mentor ini hampir sama dengan sekolah mentor, akan tetapi untuk dauroh mentor ini diikuti oleh mentor yang sudah senior atau yang sudah melawati tahapan sekolah mentor.

Minggu, 15 September 2013

MUI Tolak dan Sesalkan Penyelenggaraan Miss World di Indonesia

Jakarta - Penyelenggaraan kontes kecantikan sejagad Miss World yang diadakan di Indonesia menuai pro dan kontra. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun menyatakan menolak dan menyesalkan penyelenggaraan kontes yang diadakan di Bali tersebut.

"Jadi pada kesimpulannya MUI menolak dan menyesalkan diselenggarakannya Miss World di Indonesia, yang sekarang sedang berlangsung," ujar Ketua MUI KH Amidhan.

Amidhan mengatakan hal tersebut usai melakukan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MUI di Twin Plaza Hotel, Jl S Parman, Jakarta Barat, Sabtu (14/9/2013).

Amidhan mengatakan, penyelenggaraan ajang internasional tersebut di Indonesia tidak cocok dan banyak menuai kecaman, terutama dari berbagai ormas. Menurutnya, ajang tersebut merupakan perwujudan dari kebudayaan barat.

"Sebenarnya isu ini tadinya di tangan pemerintah, aspirasi yang kuat dan besar menolak, tapi pemerintah mengizinkan di Bali. Nah, kenapa Miss World masuk di bidang agama? Sebenarnya itu karena sebagian besar mayoritas yang menolak ini, tokoh-tokoh dan pemimpin ormas islam dan keagamaan lainnya pada dasarnya tidak setuju diadakannya Miss World di Indonesia," jelasnya.

"MUI mencermati ini sangat serius terhadap kegiatan tersebut. MUI menyampaikan menolak dan menyesalkan tegas, mengingat berbagai acara eksploitasi naluri primitif merupakan liberal sekuler kapitalisitk," tambahnya.

Sumber : detik news

Jumat, 03 Mei 2013

Biografi tokoh pendidikan Islam di Indonesia

Biografi tokoh pendidikan Islam di Indonesia



Adapun tokoh-tokoh pendidikan Islam di Indonesia antara lain :

Kyai Haji Ahmad Dahlan (1869-1923)
 



K.H Ahmad Dahlan dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1869 M dengan nama kecilnya Muhammad Darwis, putra dari K.H Abu Bakar Bin Kyai Sulaiman, khatib di Masjid besar (Jami’) kesultanan Yogyakarta. Ibunya adalah putri Haji Ibrahim, seorang penghulu Setelah beliau menamatkan pendidikan dasarnya di suatu Madrasah dalam bidang Nahwu, Fiqih dan Tafsir di Yogyakarta beliau pergi ke Makkah pada tahun 1890 dan beliau menuntut ilmu disana selama satu tahun. Salah seorang gurunya Syekh Ahmad Khatib. Sekitar tahun 1903 beliau mengunjungi kembali ke Makkah dan kemudian menetap di sana selama dua tahun
Beliau adalah seorang yang alim luas ilmu pengetahuanya dan tiada jemu-jemunya beliau menambah ilmu dan pengalamanya. Dimana saja ada kesempatan sambil menambah atau mencocokan ilmu yang telah diperolehnya. Observation lembaga pernah beliau datangi untuk mencocokan tentang ilmu hisab. Beliau ada keahlian dalam ilmu itu. Perantauanya kelauar pulau jawa pernah sampai ke Medan. Pondok pesantren yang besar-besar di Jawa pada waktu itu banyak dikunjungi.
Cita-cita K.H Ahmad Dahlan sebagai seorang ulama adalah tegas, beliau hendak memperbaiki masyarakat Indonesia berlandaskan cita-cita agama Islam. Usaha-usahanya ditujukan hidup beragama, keyakinan beliau ialah bahwa untuk membangun masyarakat bangsa harus terlebih dahulu dibangun semangat bangsa. K.H Ahmad Dahlan pulang ke Rahmatullah pada Tahun 1923 M Tanggal 23 Pebruari dalam usia 55 Tahun dengan meninggalkan sebuah organisasi Islam yang cukup besar dan di segani karena ketegaranya.

K.H Hasim Asy’ari (1971-1947)




K.H Hasim Asy’ari dilahirkan pada tanggal 14 Februari tahun 1981 M di Jombang Jawa Timur mula-mula beliau belajar agama Islam pada ayahnya sendiri K.H Asy’ari kemudian beliau belajar di pondok pesantren di Purbolinggo, kemudian pindah lagi ke Plangitan Semarang Madura dan lain-lain.
Sewaktu beliau belajar di Siwalayan Panji (Sidoarjo) pada tahun 1891, K.H Ya’kub yang mengajarnya tertarik pada tingkahlakunya yang baik dan sopan santunya yang harus, sehingga ingin mengambilnya sebagai menantu, dan akhirnyabeliau dinikahkan dengan putri kiyainya itu yang bernama Khadijah (Tahun 1892). Tidak lama kemudian beliau pergi ke Makkah bersama istrinya untuk menunaikan ibadah haji dan bermukim selama setahun, sedang istrinya meninggal di sana.
Pada kunjunganya yang kedua ke Makkah beliau bermukim selama delapan tahun untuk menuntut ilmu agama Islam dan bahasa Arab. Sepulang dari Makkah beliau membuka pesantren Tebuiring di Jombang (pada tanggal 26 Rabiul’awal tahun 1899 M)
Jasa K.H Hasim Asya’ari selain dari pada mengembangkan ilmu di pesantren Tebuireng ialah keikutsertaanya mendirikan organisasi Nahdatul Ulama, bahkan beliau sebagai Syekul Akbar dalam perkumpulan ulama terbesar di Indonesia.
Sebagai ulama beliau hidup dengan tidak mengharapkan sedekah dan belas kasihan orang. Tetapi beliu mempunyai sandaran hidup sendiri yaitu beberapa bidang sawah, hasil peninggalanya. Beliau seorang salih sungguh beribadah, taat dan rendah hati. Beliau tidak ingin pangkat dan jabatan, baik di zaman Belanda atau di zaman Jepang kerap kali beliau deberi pangkat dan jabatan, tetapi beliau menolaknya dengan bijaksana.
Banyak alumni Tebuiring yang bertebarang di seluruh Indonesia, menjadi Kyai dan guru-guru agama yang masyhur dan ada diantra mereka yang memegang peranan penting dalam pemerintahan Republik Indonesia, seperti mentri agama dan lain-lain (K.H A. Wahid Hasyim, dan K.H Ilyas).
K.H Asy’ari wafat kerahmatullah pada tanggal 25 Juli 1947 M dengan meninggalkan sebuah peninggalan yang monumental berupa pondok pesantren Tebuiring yang tertua dan terbesar untuk kawasan jawa timur dan yang telah mengilhami para alumninya untuk mengembangkanya di daerah-daerah lain walaupun dengan menggunakan nama lain bagi pesantren-pesantren yang mereka dirikan.

K.H Abdul Halim (1887-1962)





K.H Abdul Halim lahir di Ciberelang Majalengka pada tahun 1887. beliau adlah pelopor gerakan pembeharuan di daerah Majalengka Jawa Barat yang kemudian berkembang menjadi Perserikatan Ulama, dimulai pada tahun 1911. yang kemudian berubah menjadi Persatuan Umat Islam (PUI) pada tanggal 5 April 1952 M. Kedua orang tuanya berasal dari keluarga yang taat beragama (ayahnya adalah seorang penghulu di Jatiwangi), sedangkan famili-familinya tetap mempunyai hubungan yang erat secara keluarga dengan orang-orang dari kalangan pemerintah.
K.H Abdul Halim memperoleh pelajaran agama pada masa kanak-kanak dengan belajra diberbagai pesantren di daerah Majalengka sampai pada umur 22 Tahun. Ketika beliau pergi ke Makkah untuk naik haji dan untuk melanjutkan pelajaranya.
Pada umumnya K.H Abdul Halim berusaha untuk menyebarkan pemikiranya dengan toleransi dan penuh pengertian. Dikemukakan bahwa beliau tidak pernah mengecam golongan tradisi ataupun organisasi lain yang tidak sepaham dengan beliau, tablignya lebih banyak merupakan anjuran untuk menegakan etika di dalam masyarakat dan bukan merupak kritik tentang pemikiran ataupun pendapat orang lain.
Pada tanggal 7 Mei 1962 K.H Abdul Halim pulang kerahmatullah di Majalengka Nawa Barat dalam usia 75 Tahun dan dalam keadaan tetap teguh berpegang pada majhab Safi’i.

Rabu, 13 Maret 2013


Edukasi Bahaya Rokok Sejak Dini


Ilustrasi Kandungan Rokok (tuberose.com)
Ilustrasi Kandungan Rokok (tuberose.com)dakwatuna.com - Kita patut gembira, karena belum lama ini pemerintah Indonesia telah mengesahkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Tentu aturan baru ini menjadi angin segar bagi gerakan kampanye bahaya merokok, dan dinilai lebih efektif untuk mengingatkan bahaya rokok bagi pecandu berat. Karena dalam PP ini antara lain mengatur area peringatan kesehatan bergambar seluas 40 persen di depan dan belakang kemasan. Setidaknya ada lima variasi gambar “seram” yang sudah disiapkan untuk dicantumkan pada kemasan produk rokok di Indonesia, peringatan bergambar berupa gambar gangguan yang diakibatkan oleh rokok seperti kanker mulut, tenggorokan, impotensi, dan kanker paru.
Namun euforia kegembiraan ini janganlah berlebihan, mungkin dengan alasan butuh waktu untuk sosialisasi hingga kini aturan tersebut belum juga diimplementasikan ke masyarakat. Belum lagi kemungkinan gugatan hukum dari industri rokok masih terbuka, karena PP tembakau ini dinilai mengganggu bisnis mereka. Padahal bila kita bandingkan, sesungguhnya PP Tembakau di Indonesia lebih “ringan” dari pada PP Tembakau di negara-negara lain karena mereka sudah mencantumkan peringatan bergambar hingga 70 persen sejak lama. Bahkan, sejumlah negara sudah mewajibkan bungkus rokok polos. Seperti Selandia Baru yang mengikuti langkah Australia, melalui Menteri Urusan Kesehatan menyatakan, pemerintah akan melarang pemakaian merek dan mewajibkan rokok dikemas dalam kotak yang berbentuk membosankan dengan peringatan kesehatan yang eksplisit. Sehingga dengan langkah itu akan “menghapus sisa-sisa glamor terakhir dari produk mematikan ini” (Kompas, halaman 8, 20 Februari 2013).
Selama ini, industri rokok telah melakukan pengemasan bungkus rokok dan memanipulasi istilah untuk menarik konsumen dengan tujuan meningkatkan pesona serta akseptabilitas merokok seperti istilah mildlight, dan low. Padahal menurut Departemen Kesehatan RI, istilah tersebut adalah jurus industri rokok untuk mendongkrak tingkat adiksi konsumen secara perlahan-lahan. Dalam istilah psikologi sosial, hal ini bisa disebut manipulasi kesadaran. Dan kita pun tahu, dalam bentuk apapun, kebiasaan merokok tak akan pernah aman.
Dalam dunia industri rokok juga dikenal prinsip “Remaja hari ini adalah perokok di masa depan”. Karena itu bagi produsen rokok, anak-anak dan remaja merupakan aset berharga bagi keberlangsungan industri mereka. Sehingga perokok usia muda inilah yang menjadi sasaran dari produk mereka. Karena itu, para produsen rokok terus membangun citra merokok tampak seolah-olah jantan atau lelaki sejati. Begitu besarnya pengaruh membangun citra ini sehingga dalam dunia remaja, kita bisa menemukan istilah “bencong” atau “tidak gaul”, sebuah label yang disematkan bagi remaja laki – laki yang tidak merokok.
Mungkin, hal inilah yang menjadi salah satu penyebab makin meningkatnya pecandu rokok di kalangan remaja. Menurut Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) memperkirakan ada 21 juta anak Indonesia menjadi perokok dan meningkat setiap tahunnya. Tahun lalu diperkirakan ada kenaikan hingga 38 persen dari jumlah anak yang merokok di Indonesia. Sementara untuk Jakarta, tingkatnya diperkirakan mencapai 80 persen.
Kalau industri rokok sudah menjadikan remaja kita sebagai pangsa pasar yang menggiurkan. Sebelum semakin banyak remaja kita menjadi konsumen dan pecandu rokok, sebelum terjerumus dalam kerusakan yang lebih besar lainnya seperti narkoba. Maka kita sebagai orang tua harus mewaspadai dan mulai berbenah.
Edukasi melalui keteladanan
Keteladanan yang baik akan membawa kesan positif dalam jiwa anak. Dan orang yang paling banyak diikuti oleh anak adalah orang tuanya. Mereka pulalah yang paling kuat menanamkan pengaruhnya ke dalam jiwa anak. Oleh karena itu, Rasulullah SAW memerintahkan agar orang tua bersikap jujur dan menjadi teladan yang baik kepada anak-anak mereka.
Begitu juga dengan edukasi bahaya rokok, salah satu cara sederhana untuk mengurangi tingginya perokok aktif adalah melalui keteladanan orang tuanya (ayah). Keteladanan orang tua yang tidak merokok menjadi pintu gerbang awal dalam edukasi bahaya rokok. Biasanya, orang tua yang tidak merokok, kemungkinan besar anak-anaknya juga tidak merokok, karena mereka senantiasa memperhatikan perilaku orang tuanya. Dan keteladanan ini akan menjadi imunitas bagi anak-anaknya saat mereka bergaul dengan komunitas perokok, sehingga keinginan untuk mencoba merokok tidak akan pernah mereka lakukan. Jadi sebaiknya, edukasi rokok ini diterapkan orang tua sejak bayi.
Namun disayangkan, orang tua yang seharusnya menjadi teladan dalam edukasi bahaya merokok malah menjadi contoh buruk. Kita masih mudah menjumpai di masyarakat, orang tua dengan mudahnya menyuruh anak-anaknya untuk beli rokok di warung, menggendong anak bayinya sambil merokok, kiai yang menyampaikan ilmu agama sambil merokok di depan santri-santrinya. Sesungguhnya contoh buruk ini, tanpa disadari orang tua telah turut mewariskan dan melanggengkan kebiasaan merokok kepada anak-anak mereka. Sehingga epidemi rokok di Indonesia sulit diputus mata rantainya.
Maka kita tidak heran, kalau tingkat konsumsi rokok di Indonesia terus meningkat. Menurut survey
Global Adult Tobacco Survey (GATS) disebutkan, konsumsi rokok di Indonesia tahun 2011 sekitar 270 miliar batang. Angka konsumsi rokok ini terus meningkat karena tahun 1970 konsumsi rokok baru sekitar 30 miliar batang. Konsumsi rokok di kalangan anak-anak juga terus meningkat.
Alangkah indahnya dunia ini, jika para orang tua menyadari bahaya rokok ini, bahaya itu tidak hanya karena ada 4.000 zat kimia beracun yang terdapat pada sebatang rokok, tapi juga bisa berefek pada kerusakan yang lebih besar, karena rokok merupakan pintu gerbang awal untuk mengenal narkoba.
Sebelum terlambat, sebelum kerusakan terus menghantui anak-anak kita, remaja kita, sebaiknya dicoba, dimulai dari diri kita, tinggalkanlah rokok sebatang-demi sebatang hingga pada titik tidak merokok sama sekali. Bagi pecandu rokok, memang hal ini terasa sangat berat, namun bila dilandasi kesabaran dan perasaan sayang anak maka insya Allah bisa dilewati. Karena hal ini sudah dipraktekkan ayah penulis, sejak penulis duduk di bangku SMP, dan sampai sekarang alhamdulillah ayah tidak pernah lagi menyentuh barang mematikan ini.
Keterlambatan selalu punya dampak serius. Tapi mengapa keterlambatan selalu jadi bagian keseharian kita. Kita terlambat menyadari bahaya rokok ini. Atau kita terlambat menentukan prioritas masa depan anak dan mendahulukan egoisme demi asap rokok. Namun, menurut Eri Sudewo dalam bukunya “Best Practice Character Building Menuju Indonesia Lebih Baik” halaman 147, mengatakan, tidak ada kata terlambat bagi yang mau berbenah. Tidak ada paksaan untuk perbaiki diri. Dan, tidak satu manusia pun yang bisa mengubah orang lain. Semua kembali pada masing-masing.
Maka sebagai orang tua harus memilih, apakah lebih mengutamakan egoisme kita menjadi teladan dan mewariskan kebiasaan merokok pada anak-anak kita atau menyiapkan anak-anak kita, remaja kita lebih berprestasi tanpa rokok dan narkoba.
Karena anak-anak kita, remaja kita adalah aset negara dan pemimpin di masa depan. Remaja sangat diperlukan oleh masyarakat dan negara karena golongan ini merupakan pilar pembangunan negara. Remaja juga merupakan golongan yang paling berharga serta harta yang tidak ternilai. Pada mereka jugalah terletak masa depan negara. Ada pepatah mengatakan “Rusak remaja, pincanglah negara”. Tentu kita tidak mau hal ini terjadi.
Semoga, pencantuman gambar bahaya merokok ini bisa menyadarkan para perokok aktif dan menjadi media efektif untuk mengurangi angka konsumsi rokok di Indonesia, sebuah produk yang menewaskan 239 ribu warga Indonesia per tahun. Wallahu a’lam.
Sucipto, SE.

Tentang Sucipto, SE.

Alumni Universitas Muhammadiyah Tangerang. Tinggal di Serpong Utara Kota Tangsel. Selengkapnya.

Minggu, 10 Maret 2013


dakwatuna.com - Makna dakwah ialah menyeru kepada Allah SWT dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Hingga pada akhirnya mengingkari thagut dan beriman kepada Allah SWT dan mengeluarkannya dari kegelapan kejahiliyahan menuju terangnya Islam. Sungguh sangat dahsyat. Sebuah pekerjaan mulia karena ia adalah tugasnya para Nabi, Rasul dan umat terdahulu yang saat ini kitalah yang wajib untuk melanjutkan estafet perjuangan mereka. Karena kita adalah da’i sebelum menjadi apa-apa, nahnu du’at qobla kulli syai’in.
Medan dakwah adalah sarana melakukan perbaikan. Para penyeru dakwah adalah orang-orang yang juga melakukan perbaikan pada diri mereka. Memperbaiki dan melakukan perbaikan. Medan dakwah adalah “kampus” bagi setiap manusia. Tempat belajar dan menimba banyak ilmu pengetahuan. Karena Allah SWT melalui perantara-Nya Muhammad SAW dan para Rasul terdahulu melakukan sebuah proses tarbiyah (pendidikan) untuk mentransformasi umat dari kejahiliyahan menuju Islam. Jadi dapat dikatakan dakwah adalah sebuah proses pembelajaran bagi orang-orang yang jahil (bodoh) agar mereka menjadi orang-orang yang cerdas dengan diterangi cahaya Islam. Hingga kita dapat menarik satu kesimpulan yang sama bahwa dalam kehidupan ini kita butuh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu insya Allah akan kita dapatkan di “universitas dakwah”.
Jika di universitas ada mahasiswa, maka kita semua adalah mahasiswa yang haus akan ilmu pengetahuan. Bedanya kalau di universitas ini biaya kuliahnya adalah keikhlasan, kesungguhan, perjuangan dan keistiqamahan. Kita selaku mahasiswa dituntut untuk membayar uang kuliah setiap saat, setiap waktu di setiap tahapan. Ikhlas dalam melaluinya, sungguh-sungguh dalam menjalankannya, berjuang untuk menegakkannya, serta istiqamah walau berat tantangan yang akan dihadapi. Namun insya Allah yang akan didapatkan bukan hanya ilmu dan pemahaman, melainkan keberkahan, rahmat, kasih sayang, pahala, bahkan surga. Allahu Akbar!!!
Jika di universitas ada dosen, maka di universitas dakwah juga ada seorang murabbi (guru). Yang membawakan kita cahaya di tengah kegelapan. Yang membawakan embun penyejuk dalam kehausan. Ia sebagai perantara antara umat dan hidayah Allah SWT. Mengajarkan, membimbing, memantau bahkan menjaga. Terkadang ia seperti saudara kita. Atau terkadang ia seperti orang tua kita, seperti guru spiritual kita (syaikh) dan juga tentunya seperti seorang guru kita (ustadz). Kita pun sebenarnya adalah seorang pendidik (murabbi). Karena mendidik adalah tugas orang yang terdidik. Pada saatnya kita pun dituntut agar menjadi seorang dosen. Dosen di universitas dakwah. Allahu Akbar!!!
Jika di universitas ada jajaran birokrasi yang mengelola dan mengatur jalannya proses belajar-mengajar, maka di universitas dakwah juga di kenal dengan sebutan qiyadah (pemimpin) yang dipilih melalui musyawarah untuk menjadi nahkoda di atas bahtera dakwah ini. Setiap bagian dari universitas ada yang mengatur dan mengelola untuk membantu tugas sang qiyadah. Orang-orang yang ada pada jajaran birokrasi adalah orang yang telah lama kuliah, banyak pengalaman, paham akan seluk beluk kampus dan memiliki kapabilitas untuk membawa universitas ini menebarkan kebaikan dan rahmat kepada seluruh alam. Kita para mahasiswa dan dosen harus tsiqah (percaya) kepada mereka, agak cita-cita bersama mudah untuk diraih, insya Allah. Allahu Akbar!!!
Dan akhirnya masa kelulusan pun tiba setelah beberapa tahun lamanya menimba ilmu di universitas dakwah. Walaupun ada juga kisah tentang mahasiswa yang keluar dari universitas sebelum masa kelulusan tiba. Mereka adalah orang yang tidak siap. Tidak siap dalam menghadapi beratnya tantangan yang dilewati dan akhirnya memilih untuk tidak kuliah lagi di universitas dakwah, na’udzubillah. Semoga kita bukan golongan mereka, aamiin. Bagi kita yang tetap bertahan, insya Allah kita lulus. Tidak ada yang tidak lulus. Masa kelulusan itu adalah kematian kita. Itulah kelulusan yang menyenangkan (khusnul khatimah). Kita mengakhiri masa aktif di universitas dakwah, dengan gelar almarhum / almarhumah. Ijazah kita akan dibagikan di akhirat sebagai syarat untuk masuk ke dalam surga-Nya. Kita semua berharap ingin mendapatkan nilai yang baik, yang terbaik dari yang baik-baik. Itulah kebanggaan kita semua setelah berhasil menyerahkan syarat kepada sang pencipta dengan nilai yang memuaskan akhirnya kita dapat melihat wajah-Nya dan reuni. Reuni dengan saudara seperjuangan di universitas dakwah. Wallahu’alam bi ash-showwab

Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net